Tuesday, 26 July 2016

Kisah Sukses Akio Morita - SONY


Pada tahun 1946, Perang Dunia II baru saja usai. Di ruang bawah tanah bekas department store, Akio Morita dan Masaru Ibuka mengerjakan tape recorder pertama Jepang. Suaranya masih jelek, namun ia bekerja. Dan dari awalan yang sederhana inilah, Sony terlahir. Selama 68 tahun berikutnya, Sony menjadi merek konsumen nomor satu di dunia. Orang yang bertanggung jawab untuk prestasi luar biasa ini adalah pemasar brilian yang memiliki perpaduan pola pikir antara Barat dan Timur: Akio Morita.

Morita pernah menulis sebuah buku berjudul Gakureki Muyō Ron, yang artinya “jangan pedulikan sejarah sekolah“. Di sini, ia menekankan bahwa catatan semasa sekolah tidak penting untuk kesuksesan.

“Saya menerapkan sebuah aturan bahwa, sekali kami mempekerjakan karyawan, maka catatan sekolahnya adalah masa lalu dan tidak lagi digunakan untuk mengevaluasi hasil kerjanya atau mempertimbangkan promosinya,” kata Morita.

Fokus Sony adalah mempekerjakan orang-orang yang mampu bekerjasama. Morita tidak pernah peduli apakah karyawannya datang dari universitas terbaik, atau jika mereka memiliki nilai terbaik.

Prinsip ini datangnya bukanlah sekedar demi kenyamanan Morita. Bukan berarti ia tidak lulus secara prestisius. Morita justru memperoleh gelar sarjana di bidang fisika dari Osaka Imperial University. Ia bahkan terlahir dari sebuah keluarga kaya. Keluarganya memiliki bisnis penyulingan bir. Dan sebagai anak tertua, ia diharapkan mengambil alih bisnis keluarga. Akan tetapi, minat Morita berada di tempat lain.

“Ketika di SMA, ayah saya membelikan sebuah fonograf. Suaranya fantastis. Saya sangat terkesan. Saya mulai bertanya-tanya bagaimana dan mengapa suara tersebut keluar. Saat itulah saya menemukan minat saya di elektronik,” katanya. Maka, ia meyakinkan ayahnya untuk membiarkan adiknya meneruskan bisnis keluarga, sementara ia melanjutkan pendidikannya ke bangku kuliah.

Teori populer yang sering digaungkan Morita adalah ‘motivasi kerja tidak datang karena uang’.

“Saya percaya bahwa orang-orang bekerja untuk kepuasan,” katanya. “Uang bukan satu-satunya cara untuk memberi kompensasi seseorang atas pekerjaannya. Mereka memang butuh uang. Akan tetapi mereka juga ingin kebahagiaan dalam kerja mereka, dan bangga karenanya.”

Maka menurutnya, perusahaan harusnya tidak membuang anggaran mereka untuk memberi bonus dan tunjangan besar bagi eksekutif. Alih-alih, manajemen harus mampu menyediakan gol yang jelas.

“Solusi saya untuk mengeluarkan kreatifitas adalah selalu mengatur target,” katanya. “Manajemen harus memberikan target yang konstan pada teknisi.”